Senin, 13 April 2026

Berita Papua Barat

BRIDA Kerjasama Riset Iklim Bersama Mitra, Prof Charlie: Melihat Kerentanan dan Kesiapan Daerah

Kami juga meneliti bagaimana mengenai blue carbon. Terutama yang berada di kawasan ekosistem esensial mangrove dan Padang Lamun

Tayang:
Penulis: R Julaini | Editor: Libertus Manik Allo
zoom-inlihat foto BRIDA Kerjasama Riset Iklim Bersama Mitra, Prof Charlie: Melihat Kerentanan dan Kesiapan Daerah
Tribunpapuabarat.com//Rachmat Julaini
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat, Prof Charlie Heatubun. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat menjalin kerjasama riset bersama mitra pembangunan melihat tingkat kerentanan daerah atas perubahan iklim.

Kerjasama dilakukan dengan Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan National University of Singapore.

Kepala BRIDA Papua Barat, Prof Charlie Heatubun, Jumat (8/9/2023) menyatakan riset dilakukan usai adanya komitmen 70 persen tutupan hutan harus dijaga dan dilestarikan.

Baca juga: Realisasi Investasi Papua Barat Tembus 4,7 T, Waterpauw Minta Masyarakat Adat Dukung Iklim Investasi

Baca juga: 20 Local Champion Dibekali Pemahaman Ekonomi Hijau, Prof Charlie: Cegah Perubahan Iklim

"Kami juga meneliti bagaimana mengenai blue carbon. Terutama yang berada di kawasan ekosistem esensial mangrove dan padang lamun," sebut Prof Charlie.

Merujuk lindungihutan.com, blue carbon adalah istilah yang digunakan untuk cadangan emisi karbon yang diserap, disimpan dan dilepaskan oleh ekosistem pesisir dan laut.

"Kita melihat potensinya seperti apa dan peranannya dalam kestabilan iklim global," jelasnya.

Sehingga, menurut Prof Charlie Heatubun hal itu sangat baik jika nantinya daerah siap menjalankan skema perdagangan karbon.

Diharapnya riset kerentanan daerah dalam menghadapi perubahan iklim dapat selesai pada akhir tahun atau Desember 2023 mendatang.

Sementara riset mengenai blue carbon dipastikan adalah program jangka panjang yang diperkirakan selesai lima tahun ke depan.

Menurutnya, program jangka panjang itu juga dikarenakan sifatnya sekaligus monitoring untuk mengetahui seberapa besar gas yang diserap dan dilepaskan.

"Sehingga itu menjadi referensi yang pasti atas kontribusi kita dalam pengendalian dan pencegahan perubahan iklim," pungkasnya.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved