Pencarian Iptu Tomi Marbun
Bharatu Komang Ngurah Tersengat Kawanan Lebah Saat Pencarian Iptu Tomi Marbun
Ia menambahkan, Bharatu Komang dilaporkan sempat kritis karena sengatan kawanan lebah di beberapa bagian tubuhnya.
Penulis: Syahrul Said Refideso | Editor: Libertus Manik Allo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Kali-Cempedak-098.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, BINTUNI - Personel Satgas SAR Korbrimob Polri Bharatu Komang Ngurah tersengat kawanan lebah, saat melakukan pencarian mantan Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni Iptu Tomi Samuel Marbun di Kali Cempedak, Teluk Bintuni, Minggu (27/4/2025).
Kaposko Operasi AB Moskona 2025 Kombes Pol Teguh Triwantoro mengatakan, lokasi pencarian Iptu Tomi Samuel Marbun memiliki topografi yang berat melewati sungai dan hutan.
Sehingga pada saat melakukan pencarian Iptu Tomi Marbun, Bharatu Komang Ngurah tersengat kawanan lebah.
Baca juga: Hari Pertama Pencarian Iptu Tomi Marbun, Cuaca Tiba-tiba Berubah Hujan Deras dan Debit Air Meningkat
Baca juga: Polri Pakai 2 Helikopter untuk Operasi Pencarian Iptu Tomi Marbun di Teluk Bintuni
"Bharatu Komang sudah kami evakuasi jalur darat," kata Kombes Teguh dalam siaran persnya yang diterima Tribun, Minggu (27/4/2025).
Ia pun menjelaskan kronologi Bharatu Komang tersengat kawanan lebah.
Bharatu Komang Ngurah yang tergabung dalam Satgas SAR Korbrimob Polri sudah terlebih dahulu berada di dalam hutan.
Komang Ngurah bersama tim melakukan pencarian terhadap Iptu Tomi Marbun.
Pencarian dilakukan dengan menyusuri Kali Cempedak dan lokasi yang diduga tempat hilangnya Iptum Tomi Marbun.
Pada pukul 13.00 WIT, pihaknya menerima laporan melalui handy talky (HT) satelit bahwa Bharatu Komang tersengat kawanan lebah.
"Rekan-rekan Satgas SAR AB Moskona 2025 ini sudah mendahului berada di hutan," ungkapnya.
Pihaknya yang menerina laporan tersebut langsung bergerak melakukan evakuasi.
Helikopter pun dikerahkan untuk mengevakuasi Bharatu Komang sesuai dengan koordinat yang dikirimkan.
Hanya saja sambung Kombes Teguh, medan yang sulit membuat helikopter membuat helikopter sulit mendarat.
"Kami beberapa kali manuver untuk mendarat, hanya saja landing zone tertutup arus sungai," bebernya.
Alhasil lanjut Kombes Teguh, tim memutuskan kembali ke posko untuk melakukan konsolidasi.