Konflik Hambat Bantuan Pendidikan, Mahasiswa Puncak Jaya di Manokwari Pilih Berkebun
mahasiswa berinisiatif membuka lahan dan berkebun agar bisa memenuhi kebutuhan hidup di asrama
Penulis: Matius Pilamo Siep | Editor: Hans Arnold Kapisa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Ketua-Ikatan.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI – Mahasiswa Kabupaten Puncak Jaya di kota studi Manokwari, Papua Barat memilih yang terbaik dengan berkebun untuk menopang kebutuhan hidup sambil menempuh pendidikan.
Ketua Ikatan Mahasiswa Puncak Jaya kabupaten Manokwari, Lenus Kullua membenarkan aktivitas keseharaian yang dilakukan rekan-rekannya itu selama menempuh perkuliahan.
Ia mengatakan pilihan berkebun meruapakan inisiatif rekan-rekannya dengan membuka lahan untuk bercocok tanam di kawasan Sowi gunung Manokwari.
"Langkah yang diambil ini sebagai upaya bertahan hidup akibat terhambatnya bantuan dan kiriman dari orang tua maupun pemerintah daerah yang biasanya mereka terima," tutut Lenus kepada Tribun di Manokwari, Kamis (1/5/2025).
Baca juga: Yuten Sam Resmi Jadi Ketua IMPT Manokwari, Janji Perkuat Persatuan Mahasiswa Pegunungan Tengah
Lenus Kullua bahkan menyampaikan hal yang paling menyentuh, bahwa inisiatif berkebun itu karena mahasiswa Puncak Jaya di Manokwari juga terkena dampak dari konflik horizontal di daerah asal mereka itu sejak 2024 hingga saat ini.
Ia menyebut, konflik tersebut mengakibatkan jalur komunikasi dan distribusi bantuan dari daerah asal Puncak Jaya juga sering terhambat.
“Biasanya kami mendapat kiriman dari orang tua dan bantuan dari pemerintah daerah. Namun karena konflik hingga kini kami belum menerima apa-apa," imbuhnya.
Baca juga: Mahasiswa Puncak di Manokwari Tolak Rencana 3 DOB dan Sampaikan 7 Tuntutan
Oleh sebab itu, lanjut dia, mahasiswa berinisiatif membuka lahan dan berkebun agar bisa memenuhi kebutuhan hidup di asrama,” kata Lenus melanjutkan.
Ia menambahkan bahwa pilihan berkebun bukan sekadar kepentingan ekonomi (kebutuhan), tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya berkebun yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur mereka.
“Kami sadar bahwa kami dibesarkan dengan budaya berkebun. Di kampung, orang tua kami mengajarkan cara bertani untuk bertahan hidup. Namun, kini banyak yang mulai lupa karena perkembangan zaman dan bergantung pada bantuan. Kami ingin menghidupkan kembali tradisi ini,” ujarnya.
Baca juga: Kampus Dipalang, Sebagian Mahasiswa Unipa Diarahkan Kuliah Online
Ia menjelaskan, bahwa lahan kebun yang dibuka oleh mahasiswa ditanami berbagai jenis tanaman pangan, berupa ubi, pisang, tebu, wortel, dan jagung.
Bahkan, kata Lenus, bahwa mereka juga menanam sejumlah bibit pohon di sekitar lokasi kebun untuk menjaga kawasan itu tetap lestari di kemudian hari.
Lenus juga berkisah tentang waktu yang dibutuhkan untuk pembukaan lahan kebun, yang terkadang memakan waktu sekitar satu minggu
"Itu mereka kerjakan bersama-sama di sela kesibukan mereka sebagai mahasiswa aktif," kisahnya.
Bahwa setiap mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan mendapat bagian lahan yang sama untuk digarap.
| Ritual "Patah Panah" Akhiri Konflik Antarwarga di Wamena Papua Pegunungan |
|
|---|
| Lenus Kullua Apresiasi Pemkab Puncak Jaya atas Peresmian Asrama Mahasiwa di Manokwari |
|
|---|
| Bupati Yuni Wonda Resmikan Asrama Mahasiswa Puncak Jaya di Manokwari Papua Barat |
|
|---|
| 8 Korwil IMPT Kota Studi di Manokwari Serukan Perdamaian atas Konflik Horizontal Wamena |
|
|---|
| Peresmian Asrama Permanen, Mahasiswa Puncak Jaya Kota Studi Manokwari Minta Dukungan Pemda |
|
|---|