Berita Papua Barat
193 Sekolah se-Papua Barat Ikut Pelatihan Deep Learning dan Kecerdasan Artifisial
Fokus pelatihan itu sambung Tuning, membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir sistematis melalui coding dan KA.
Penulis: Fransiskus Irianto Tiwan | Editor: Libertus Manik Allo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/tuning-supriadi-298.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Kepala Balai Guru Penggerak Provinsi Papua Barat Tuning Supriadi mengungkapkan, saat ini terdapat 193 sekolah se-Papua Barat yang mengikuti pelatian deep learning berbasis coding dan kecerdasa artifisial.
"Mereka yang mengikuti pelatihan ini, melibatkan sekolah-sekolah yang memiliki kinerja terbaik," kata Tuning saat diwawancarai Tribun di Swissbel Hotel, Rabu (16/7/2025).
Tuning mengatakan, pelatihan tersebut diarahkan untuk sekolah-sekolah yang menerima BOS kinerja terbaik.
Baca juga: Manokwari Dapat 50 Kuota Calon Guru Penggerak, Dinas Pendidikan Dampingi agar Banyak yang Lulus Tes
Baca juga: Festival Panen Hasil Belajar Guru Penggerak Angkatan 11 Kabupaten Fakfak
Fokus pelatihan itu sambung Tuning, membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir sistematis melalui coding dan KA.
"Target utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah adalah mendorong sekolah-sekolah penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja, untuk memanfaatkan anggaran secara optimal, khususnya dalam pelatihan pembelajaran deep learning berbasis coding dan kecerdasan artifisial," ungkapnya.
Tuning juga menyatakan, untuk sekolah penerima BOS Reguler, tetap ada peluang mengikuti pelatihan tersebut.
Asalkan lanjut Tuning, sekolah memenuhi kriteria salah satunya jumlah murid minimal 400.
"Kalau jumlah siswanya besar, maka alokasi anggaran juga besar. Kalau ada sisa, bisa dimanfaatkan untuk pelatihan coding dan KA," bebernya.
Tuning menjelaskan, pendekatan pembelajaran coding dan KA dirancang agar siswa tidak hanya mengoperasikan komputer secara teknis.
Tetapi juga kata Tuning, siswa mampu berpikir logis dan menemukan solusi dari permasalahan secara cepat.
"Diharapkan pola pikir dan pola kerja anak-anak menjadi lebih sistematis, dan bisa diimplementasikan ke semua mata pelajaran di semua jenjang pendidikan," tuturnya.
Tuning mengakui tantangan utama dalam implementasi program ini adalah keterbatasan jumlah fasilitator.
"Di Balai Guru Penggerak hanya memiliki 5 widyaiswara. Untuk memfasilitasi pelatihan di Manokwari saja itu belum cukup, apalagi kami mencakup dua provinsi dengan 13 kabupaten/kota," ungkapnya.
Kendati demikian, Tuning menegaskan sebagai solusi pihaknya telah merekrut calon fasilitator dari masing-masing daerah, melalui proses seleksi dan pelatihan Training of Trainer (ToT) selama enam hari.