Pangeran Diponegoro, Pahlawan Nasional Pemimpin Perang Jawa Melawan Belanda
Pangeran Diponegoro adalah sosok pahlawan nasional yang tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia dalam melawan penjajah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Replika-lukisan-Pangeran-Diponegoro.jpg)
Beberapa tokoh saat itu juga bergabung. Seperti Kyai Maja, tokoh agama di Surakarta, kemudian SISKS Pakubuwono VI, dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya.
Tahun 1827, posisi Diponegoro terjepit karena Belanda menyerang dengan lebih dari 23.000 prajurit.
Pada 1829, Kyai Maja ditangkap. Menyusul kemudian Sentot Alibasya.
Pada tanggal 28 Maret 1830, pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal De Kock berhasil mendesak Diponegoro di Magelang.
Baca juga: Sosok HOS Tjokroaminoto, Pahlawan Nasional yang Dijuluki Raja Jawa Tanpa Mahkota
Meninggal di Makassar
Pangeran Diponegoro melakukan perundingan dengan Jenderal de Kock di Magelang.
Belanda menuntut Pangeran Diponegoro menghentikan perang.
Permintaan itu ditolak. Diponegoro ditangkap kemudian diasingkan ke Ungaran, Semarang, ke Gedung Karesidenan Semarang.
Pada 5 April 1839, Diponegoro dibawa ke Batavia menggunakan kapal Pollux.
Kemudian di tanggal 30 April 1830, Belanda memutuskan Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado bersama dengan istrinya keenamnya yakni Raden Ayu Ratna Ningsih, serta Tumenggung Dipasana dan istrinya.
Diponegoro dan rombongan tiba di Manado pada tanggal 3 Mei 1830 dan langsung ditawan di banteng Amsterdam.
Tahun 1834, ia dipindahkan ke banteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
Baca juga: Sultan Hasanuddin, Pahlawan Nasional yang Dijuluki Belanda sebagai Ayam Jantan dari Timur
Diponegoro menghabiskan hidupnya hingga meninggal pada tanggal 8 Januari 1855 di usia ke-69.
Makamnya terletak di Jalan Diponegoro, Makassar.
Tongkat Diponegoro