Pangeran Diponegoro, Pahlawan Nasional Pemimpin Perang Jawa Melawan Belanda
Pangeran Diponegoro adalah sosok pahlawan nasional yang tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia dalam melawan penjajah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Replika-lukisan-Pangeran-Diponegoro.jpg)
Menurut ahli sejarah Diponegoro asal Inggris, Peter Carey, Diponegoro punya tongkat kebanggaan.
Sang Pangeran mendapatkannya dari warga sekitar tahun 1815.
Tongkat tersebut digunakan Diponegoro selama berziarah di selatan Jawa, termasuk Yogyakarta.
Berdasarkan catatan Carey, tongkat tersebut menjadi artefak spiritual, terutama karena simbol cakra sepanjang 153 sentimeter yang ada di ujung atas tongkat.
Tongkat Pangeran Diponegoro yang juga disebut tongkat Kanjeng Kiai Tjokro kini disimpan di Galeri Nasional Indonesia.
Sebelumnya, selama 181 tahun tongkat tersebut disimpan salah satu keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chrétien Baud.
Baca juga: Kapitan Pattimura, Pahlawan Nasional asal Maluku yang Dihukum Mati oleh Belanda
Gelar Pahlawan Indonesia
Berdasarkan Buku Kumpulan Pahlawan Indonesia karya Mirnawati, Pangeran Diponegoro diberikan gelar pahlawan sesuai dengan SK Presiden RI No. 087/TK/1973 pada tanggal 6 November 1973.
Pemberian gelar Pahlawan Indonesia ini karena perjuangan Pangeran Diponegoro melalui Perang Jawa harus diapresiasi.
Pembelaannya terhadap masyarakat kecil bisa menjadi contoh.
Penghargaan dari UNESCO
Diambil dari website resmi Unesco, pada tanggal 21 Juni 2013 menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World)
Babad Diponegoro adalah naskah klasik yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada tahun 1832-1833.
Babad tersebut berisi tentang kisah hidupnya yang memiliki nama asli Raden Mas Antawirya.
Baca juga: Sosok Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien, Pejuang Wanita Membuat Belanda Khawatir
Film Pahlawan Goa Selarong