Catatan Stunting di Papua Barat, Ada Penurunan di 2021, Kemendagri Beri Penghargaan

Seperti ini catatan stunting di Papua Barat yang semakin ada penurunan sehingga dapat penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri

Penulis: R Julaini | Editor: Jefri Susetio
Tribun PapuaBarat.com
KONVERGENSI STUNTING: Sekretaris Daerah Papua Barat Nataniel Mandacan menyerahkan piagam penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri, kepada Kepala Bappeda Papua Barat Dance Sangkek, saat apel di halaman kantor gubernur, Senin (11/7/2022). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI- Pemerintah Provinsi Papua Barat meraih penghargaan aksi konvergensi penurunan prevalensi stunting 2021. Penghargaan itu diberikan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

"Papua Barat berada di 17 provinsi terbaik dari 34 provinsi di Indonesia," ujar Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Papua Barat, Dance Sangkek, saat dikonfirmasi awak media di Manokwari, Senin (11/7/2022).

Ia menjelaskan, ada delapan aksi konvergensi yang telah dilakukan pemerintah daerah dalam menekan prevalensi stunting di masing-masing kabupaten dan kota di Papua Barat.

Baca juga: Seorang Jenderal Ikut Bersih-bersih Plastik, Banyak Ikan di Laut Sorong Terkena Mikro Plastik

Baca juga: Jadwal Kapal Perintis KM Sabuk Nusantara 96 Juli 2022,Rute Manokwari-Saukorem-Sausapor-Moroid-Sorong

Meliputi pelaksanaan atas rencana kegiatan, pembinaan kader desa, manajemen data, pengukuran serta publikasi stunting, evaluasi kinerja tim percepatan penurunan stunting, analisis situasi, dan menerbitkan regulasi.

"Kinerja tahun lalu itulah yang merekomendasikan Papua Barat raih penghargaan," jelas Dance.

Hasil evaluasi pelaksanaan tahun 2021 di seluruh kabupaten dan kota, Kabupaten Fakfak menjadi yang terbaik. Disusul Kabupaten Raja Ampat dan Maybrat.

Saat ini, prevalensi stunting Papua Barat mencapai 26,2 persen.
Angka tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan rata-rata nasional yaitu 22,4 persen.

"Target penurunan kasus sampai tahun 2023 sebesar 14 persen," ucap Dance.

Menurutnya, penyebab kasus stunting tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, melainkan sejumlah faktor lainnya atau multisektor.

Oleh sebabnya, pencapaian target didukung oleh kolaborasi dan sinergitas seluruh stakeholder dalam melaksanakan program.

"Dulu orang pikir masalah stunting hanya masalah kesehatan saja. Padahal itu karena faktor ekonomi, infrastruktur dan lainnya," terang dia.

Enam kabupaten tertinggi

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Papua Barat melaporkan, angka prevalensi stunting pada enam kabupaten di Papua Barat masih tinggi.

Enam daerah itu adalah Pegunungan Arfak (40,1 persen), Sorong Selatan (39,6 persen), Tambrauw (39,4 persen), Maybrat (34,5 persen), Raja Ampat (31,1 persen) dan Teluk Wondama (31,0 persen).

Sedangkan tujuh daerah lainnya yakni Kota Sorong, Fakfak, Manokwari, Teluk Bintuni, Manokwari Selatan, Kaimana, dan Kabupaten Sorong berada di bawah 30 persen.

"Kota Sorong menjadi daerah dengan angka stunting paling rendah yakni 19,9 persen," kata Kepala BKKBN Perwakilan Papua Barat, Philmona Maria Yarollo.

Baca juga: Tingkatkan Akreditasi RSUD Sele Be Solu Kota Sorong, Buat Komitmen Bersama Target Paripurna

Baca juga: Berdialog dengan Pj Gubernur Papua Barat, Bupati Manokwari Paparkan 10 Program Pembangunan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved