Beras dan Rokok Penyumbang Garis Kemiskinan Papua Barat, Berikut Ulasan BPS
Beras dan Rokok Penyumbang Garis Kemiskinan Papua Barat, berikut ulasan dari BPS Papua Barat
Penulis: R Julaini | Editor: Jefri Susetio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Data-BPJS-Papua-Barat.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Papua Barat melansir data terbaru terkait angka kemiskinan. Komoditas beras dan rokok jadi andil besar penyumbang kemiskinan.
Kepala BPS Papua Barat, Maritje Pattiwaellapia mengatakan, di perkotaan kontribusi beras mencapai 18,83 persen sedangkan di perdesaan 16,56 persen.
"Kebutuhan rokok bagi masyarakat di desa 15,07 persen. Kalau di kota 8,53 persen," kata Kepala BPS Papua Barat, Maritje Pattiwaellapia saat konferensi pers di Manokwari, Jumat (15/7/2022) siang.
Baca juga: DPRD Papua Barat Fraksi Otsus Minta Pemerintah Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Manokwari
Baca juga: BPS Sebut Kemiskinan di Papua Barat Menurun, Berikut Data Mendetailnya
Ia menuturkan, komoditas makanan turut memberikan andil baik di kota maupun perdesaan. Seperti ikan tongkol, daging babi, telur ayam ras, daging ayam ras dan gula pasir.
Selanjutnya, ikan teri, cabai rawit, ikan kembung, singkong, mi instan, dan bawang merah.
"Ketergantungan masyarakat kita masih sangat tinggi," ujarnya.
Maritje menjelaskan, sumbangan komoditi bukan makanan di kawasan perkotaan adalah perumahan 12,70 persen, disusul listrik, bensin, pendidikan, perlengkapan mandi, minyak tanah dan lainnya.
"Sementara di desa andil perumahan 11,23 persen dan komoditas lainnya yang nilainya di bawah 2 persen," ucapnya.
Secara umum, komoditi makanan memberikan andil dominan terhadap garis kemiskinan yakni 75,71 persen. Sedangkan komoditi bukan makanan hanya 24,29 persen.
Untuk wilayah kota, komoditi makanan memiliki andil 72,74 persen dan perdesaan 77,99 persen.
Baca juga: Setelah 4 Hari Terombangambing di Tengah Laut, KM Nur Budi Dievakuasi ke Manokwari
Baca juga: Cerita PNS Manokwari, Sepulang Kerja Kelola Bisnis Tambak Ikan di Pelataran Rumah
"Kalau di kota, tingkat konsumsi masyarakat ada sedikit pergeseran ya," sebut Maritje.
Lebih lanjut, ia bilang garis kemiskinan adalah gambaran pengeluaran minimum selama sebulan untuk memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan makanan maupun bukan makanan.
Garis kemiskinan Papua Barat pada Maret 2022 adalah Rp 665.604 per kapita per bulan.
Nilai tersebut naik 2 persen bila dibandingkan garis kemiskinan periode September 2021.
"Bila dibandingkan dengan kondisi Maret 2021 ada peningkatan 0,56 persen poin," tutur Maritje Pattiwaellapia.
(*)