Hofni Maryen Kuli Bangunan Jadi Pengelola Perpustakaan Kampung di Distrik Sidey Manokwari

Hofni Maryen, Kuli Bangunan Jadi Pengelola Perpustakaan Kampung di Distrik Sidey Manokwari

Penulis: Elias Andi Ponganan | Editor: Jefri Susetio
Tribun PapuaBarat.com
KULI BANGUNAN - Hofni Maryen, kuli bangunan yang dipercayakan mengelola perpustakaan kampung bernama Mukcafarkor di Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Foto: TribunPapuaBarat.com/F. Weking 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Mengajarkan anak-anak untuk membaca, menulis dan berhitung tak pernah terlintas dalam benak Hofni Maryen.

Pria kelahiran Biak Numfor, Provinsi Papua, 29 Mei 1976 silam, adalah pengelola perpustakaan kampung bernama Mukcafarkor.

Lokasi perpustakaan itu terletak di    Kampung Sidey Pantai, Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat.

Hofni, nama sapaannya, bercerita,    tahun 2019 dirinya mendapat tawaran untuk menyelesaikan pekerjaan fisik perpustakaan.

Baca juga: 4 Orang Papua Meninggal Kelaparan, 548 Terdampak Krisis Pangan di Kabupaten Lanny Jaya Papua

Baca juga: Arus Lalu Lintas di Jalan Trikora Wosi Manokwari Terpantau Ramai Lancar

Setelah rampung, kunci perpustakaan kampung hendak dikembalikan kepada pemberi pekerjaan.

Namun, atas saran dari kepala kampung setempat, Hofni dipercaya menjadi pengelola perpustakaan tersebut.

"Waktu saya mau serahkan kunci, kepala kampung tunjuk saya pegang kuncinya," ucap Hofni saat ditemui awak media, Rabu (3/8/2022).

Meski kesulitan, ia tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan.

Pelan-pelan, Hofni mengajak anak-anak di sekitar tempat tinggalnya untuk belajar bersama.

Rata-rata mereka belum bisa baca, tulis dan berhitung.

"Caranya saya belikan mereka gula-gula lalu ajak mereka belajar," ujarnya.

Hofni merupakan tamatan dari Yayasan Pendidikan Kristen, Sekolah Menengah Atas (SMA) Oukumene Manokwari, tahun 1994.

Berbekal ilmu pengetahuan dari bangku SMA, dirinya bertekad menebar kasih melalui kegiatan belajar di perpustakaan.

"Saya sendiri, tidak ada tenaga pengajar lainnya," ujar lelaki beranak tujuh itu.

Hal tersulit yang pernah dirasakan adalah cara mengajar anak-anak. Karena, dirinya tidak memiliki kemampuan khusus menjadi tenaga pengajar.

Setelah setahun, ia diberi kesempatan oleh pemerintah kabupaten mengikuti bimbingan teknis pengelolaan perpustakaan.

"Sudah beberapa kali ikut bimtek, baru saya mulai paham," terang dia.

Tahap demi tahap, pola mengajarnya lebih tertata dengan baik.

Tak hanya anak-anak, orang dewasa yang belum bisa membaca juga diajak belajar bersama di perpustakaan.

Aktivitas belajar mengajar di Perpustakaan Mukcafarkor dimulai pada sore hari.

Hal itu disesuaikan dengan profesinya sebagai kuli bangunan. Selain itu, sore hari dinilai lebih efektif ketimbang pagi hari.

"Saya harus kerja bangunan. Sore pulang baru saya mulai ajar mereka membaca," tutur Hofni.

Menjadi pengelola perpustakaan sudah menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidupnya. Tak ada niat sedikitpun untuk berhenti.

Terkadang lelah menghantui, namun semangat mencerdaskan generasi muda terus berkobar.

"Saya terinspirasi karena dulu saya tidak sempat lanjutkan ke bangku kuliah," ucapnya.

Dirinya sempat menawarkan ke beberapa masyarakat sekitar agar ikut mengajar anak-anak.

Sayangnya, tawaran direspon dengan pertanyaan biaya jasa menjadi tenaga pengajar di perpustakaan.

"Akhirnya saya putuskan untuk sendiri mengajar saja," ucapnya.

Baca juga: Cerita Pemilik Kios, 13 Tahun Jadi Penikmat Banjir di Kota Sorong

Baca juga: Kisah Pedagang Sirih Pinang di Pasar Sanggeng Manokwari yang Berhasil Kuliahkan Anaknya hingga PNS

Ia mengakui, ada honor dari pemerintah kabupaten atas jasa pengelolaan perpustakaan. Kendati honornya diterima per triwulan sekali, Hofni tetap bersyukur.

"Saya terima Rp 400 ribu tiga bulan sekali. Saya tidak melihat besaran uangnya," ujar Hofni.

Hofni menikah beberapa tahun lalu dengan Ribka Farian, perempuan kelahiran Anjai, Distrik Kebar, Kabupaten Tambrauw, 16 Desember 1990.

Tanpa dukungan Ribka, kemungkinan Hofni tidak mampu mengelola perpustakaan.

Pasokan buku perpustakaan diperoleh dari perpustakaan daerah milik pemerintah kabupaten.

"Kalau ada yang mau berdonasi, silahkan. Saya berterima kasih," pungkas Hofni Maryen.

(*)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved