Jeritan Sopir Taksi dan Ojek di Manokwari Jelang Kenaikan BBM, Beli pertalite Saja Antre Berjam-jam

Jeritan Sopir Taksi dan Ojek di Manokwari Jelang Kenaikan BBM, Beli pertalite Saja Antre Berjam-jam

Penulis: Infak Insaswar Mayor | Editor: Jefri Susetio
TRIBUNPAPUABARAT.COM/Infak Insaswar Mayor
SOPIR - Sejumlah sopir taksi dan ojek di Manokwari menolak kenaikan harga BBM karena bisa memicu naiknya harga sembako dan biaya hidup di Papua Barat semakin mahal. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Tidak sedikit masyarakat Manokwari ketar ketir dengan wacana naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

Mereka menilai kenaikan itu akan berdampak mahalnya harga kebutuhan pokok.

Seorang sopir angkot rute Maripi, Frans Kaisepo mengatakan, seharusnya pemerintah bisa melihat kondisi lapangan sebelum naiknya harga BBM.

Baca juga: Paulus Waterpauw akan Tugaskan Kepala OPD Berkantor di Daerah, Sebut Pelayanan Dasar Belum Maksimal

Baca juga: Antrean BBM Sepanjang 1 Kilometer Terjadi di Kota Minyak Sorong: Hampir Semua SPBU

"Lihat dulu kondisi lapangan, baru dinaikan," ujar sopir angkot, Frans Kaisepo kepada TribunPapuaBarat.com, Rabu (31/8/2022).

Dia menambahkan, mayoritas sopir yang sehari hari mangkal di Terminal Wosi menolak adanya kenaikan BBM.

Apalagi, pada konteks Papua Barat, masyarakat secara bertahun tahun merasakan sulitnya mendapat BBM. Antrean BBM mengular setiap hari.

"Kami harus tidur di pom bensin, biar dapat antrean cepat," katanya.

Menurutnya, adanya pembatasan pengisian bahan bakar minyak bagi para sopir angkot membuat keuntungan yang mereka terima semakin minim.

"Harga ongkos tidak berubah selayaknya harga ojek. Setelah naik belum dikeluarkan besarnya tarif," ujarnya.

Selama ini, penumpang angkot sangat pengertian membayar tarif. Seperti tarif Pasar Wosi hingga Maripi Rp 10 ribu.

Baca juga: Masyarakat Harus Bersiap BBM Subsidi akan Naik Dalam Waktu Dekat, Berikut Indikasinya

Baca juga: Pemerintah Harus Siapkan Rp 195 Triliun Bila BBM tak Naik, Segini Harga BBM Subsidi yang Ideal

Pernyataan serupa disampaikan ojek di Manokwari Rizal (25). Ia mengaku warga Papua Barat butuh kelancaran mengisi BBM bukan harga yang naik saja.

"Kadang lama juga antre di Sanggeng," katanya.

Ia bilang saban hari beli minyak di pedagang eceran karena enggan habiskan waktu berjam jam untuk beli pertalite di SPBU.

Adapun harga eceran pertalite berkiar Rp 20 ribu. Tapi ada juga yang menjual Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.

"Jika BBM naik maka perlu ada pembahasan tarif. Tarif juga harus disesuaikan," ungkapnya.

(*)

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved