Selasa, 14 April 2026

Info UNIPA

Upaya FFI dan Peneliti Unipa Selamatkan Ekidna Moncong Panjang di Sorong Raya

masyarakat Klalik marga Malak memberikan respon positif terhadap usaha konservasi spesies ini

Tayang: | Diperbarui:
zoom-inlihat foto Upaya FFI dan Peneliti Unipa Selamatkan Ekidna Moncong Panjang di Sorong Raya
Dok FFI
Individu EMPB yang terdokumentasi oleh Tim FFI 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARIFauna Flora Indonesia (FFI) Raja Ampat Ridge-to-Reef Conservation Project Kantor Sorong berkolaborasi dengan peneliti dari Universitas Papua (Unipa) untuk menyelamatkan Ekidna Moncong Panjang Barat (EMPB).

Hewan endemik Papua dengan nama ilmiah Zaglossus bruijni, itu masuk kategori berisiko punah di alam dalam waktu dekat jika tidak diselamatkan.

Peneliti ekidna dari Unipa Freddy Pattiselanno menyebut, kolaborasi survei mengonfirmasi keberadaan EMPB telah dimulai pada akhir Juli 2023.

Baca juga: Pantai Utara Manokwari Diproyeksikan Jadi Pusat Konservasi Penyu

Baca juga: Penemuan Delapan Spesies Baru Palem Kipas, Tambah Daftar Kekayaan Flora di Tanah Papua

Tepatnya di Kampung Klalik, Distrik Klaso, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, survei melibatkan relawan FFI Onesimus Paa dan Ari Lagu, serta masyarakat pemilik ulayat Klalik marga Malak.

“Perjumpaan langsung dengan spesies Ekidna tidak terjadi pada saat survei dilakukan di Hutan Klalik,” ungkap Freddy Pattiselanno dalam keterangan resmi yang diterima TribunPapuaBarat.com, Minggu (20/8/2023).

Ia mengaku,  tim hanya berhasil malacak bukti kehadirannya melalui bekas jejak yang ditinggalkan pada beberapa spot yang diduga menjadi tempat mencari makan.

Kendati begitu, lanjut dia, pada April 2023, tim FFI dengan masyarakat setempat berhasil mengonfimasi perjumpaan dengan dua individu spesies EMPB di lokasi yang ditelusuri.

Selanjutnya pada Juni 2023, sekelompok wisatawan asing yang mengunjungi Kampung Klalik berhasil mengkonfirmasi perjumpaan dengan spesies ini dan diposting pada akun media sosial mereka.

Menurut dia, timnya tidak berhaasil bertemu dengan EMPB pada akhir Juli, karena kondisi musim kemarau berkepanjangan.

 Serta, tiupan angin Selatan menyebabkan sekitar Hutan Klalik menjadi kering.

“Sebagian besar lantai hutan menjadi keras dan ditutupi dedaunan kering sehingga menyulitkan pergerakan spesies Ekidna dengan leluasa,” jelasnya.

Ia mengklaim, temuan ini menjawab beberapa dugaan yang berkaitan dengan pergerakan Ekidna dan kemampuannya mempertahankan diri di dalam sarangnya untuk waktu tertentu pada saat kondisi lingkungan tidak mendukung.

Ketika bulan basah dengan curah hujan tinggi, ucapnya, aktivitas pergerakan Ekidna di alam cukup intens dan teramati dengan baik.

“Sebaliknya, ketika bulan kering dengan curah hujan rendah, hewan ini cenderung berdiam di sarangnya,” kata dosen peternakan Unipa itu.

Ia menjelaskan, gerakan Ekidna yang lambat turut membantu untuk bersembunyi di sarangnya dan menghemat energi selama periode waktu tertentu sampai menemukan makanan kembali.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved