Berita Fakfak
Syebu dan Butong bersama Generasi Tua Fakfak, Suara Jeritan Kembalikan Pangan Lokal
"Orang tua saya dulu adalah petani, kami manfaatkan lahan yang ada di dusun kami untuk berkebun, tanam keladi, petatas dan pisang," katanya.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Libertus Manik Allo
TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Program berasisasi yang dikeluarkan Pemerintah era Presiden Soeharto tak sedikit mengubah konsumsi bahan pangan pokok masyarakat yang semula beragam menjadi satu jenis yakni beras.
Selain itu, kebijakan ini juga mematikan eksistensi pangan lokal yang sebelumnya berkembang subur di daerah-daerah, karena peminatnya menurun.
Salah satu dampak tentunya di Kabupaten Fakfak Papua Barat, di mana telah terjadi pola perubahan konsumsi masyarakat adat dari pangan lokal ke beras.
Baca juga: Pemkab Fakfak Kembali Galakkan Kampanye Konsumsi Pangan Lokal, Ini Kata Muhamad Soleh
Baca juga: Karakteristik Wilayah Jadi Tantangan Pengembangan Pangan Lokal di Fakfak
Dalam 5 tahun terakhir terhitung dari tahun 2019 hingga 2023, TribunPapuaBarat menemukan data dari BPS Kabupaten Fakfak di mana kisaran rata-rata pengeluaran per kapita warga selama sebulan untuk membeli beras yakni Rp 75.035 hingga Rp 86.731.
Mirisnya, angka tersebut menunjukkan pengeluaran yang signifikan dari masyarakat lokal di Fakfak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras.
Padahal nyatanya, mata pencaharian masyarakat lokal mayoritas tak menentu dan bersifat musiman, misalnya dengan menjadi petani pala.
Dengan menjadi petani pala, tak menandakan warga lokal di Fakfak sejahtera, sebab musim panen pala biasanya baru 6 bulan sekali.
Kebutuhan akan membeli beras tentunya meningkat, karena banyak anak cucu yang sudah mulai ketergantungan dengan beras.
Padahal ragam pangan lokal yang dikenal masyarakat Fakfak sejak dulu cukup banyak, mulai dari sagu, syebu (petatas atau ubi jalar), butong (keladi isi banyak) dan Nombow (Pisang).
Sementara itu, sayur gedi dan sayur tagas-tagas (gabungan dari daun pepaya, daun singkong, daun ubi serta bunga pepaya) juga menjadi sayuran yang biasanya dikonsumsi.
Warga lokal di Kabupaten Fakfak Papua Barat juga biasanya menyediakan ikan segar dan kepiting sebagai santapan menemani pangan lokal.
Pengolahan pangan lokal menjadi santapan khas yang lezat di Fakfak juga sebetulnya bisa diterima di semua lidah, contohnya keladi tumbuk.
Kekhawatiran Generasi Tua
Seiring perkembangan jaman, para generasi tua yang merupakan masyarakat lokal di Kabupaten Fakfak Papua Barat punya kekhawatiran tersendiri akan eksistensi pangan lokal.
Itu disampaikan mama Yohana Kabes (65) kepada TribunPapuaBarat.com saat diwawancarai di Fakfak Papua Barat, Jumat (27/9/2024).
"Kami merasa khawatir dengan jaman yang sudah berubah jauh begini, memang banyak kemajuan kalau kitorang (kita) lihat, tetapi identitas kita saya lihat mulai luntur," ujarnya.
Yohana Kabes mengatakan, ia tumbuh dan dibesarkan dengan memakan pangan lokal berupa keladi dan petatas.
"Kami dulu sama sekali tidak tahu beras ini, bahkan dulu takut juga mau makan beras, karena bagi kami keladi dan petatas ini sudah kita pu (punya) makanan hari-hari (setiap hari)," bebernya.
Ia bercerita, dulunya tak susah memperoleh keladi isi satu, namun kini sudah mulai sulit ditemukan dan bukan tidak mungkin keladi dan petatas akan menyusul hilang tanpa jejak.
"Orang tua saya dulu adalah petani, kami manfaatkan lahan yang ada di dusun kami untuk berkebun, tanam keladi, petatas dan pisang," katanya.
Sehingga dikatakannya, kala itu untuk memenuhi makanan sehari-hari tinggal pergi ke kebun untuk mengambil keladi atau petatas kemudian diolah dan dikonsumsi.
"Kami tidak perlu kasi keluar (mengeluarkan) uang untuk belanja beras seperti sekarang ini, tetapi kita bergerak bercocok tanam untuk bisa makan, makanya kita sehat-sehat karena banyak gerak," ucapnya.
Yohana Kabes mengaku prihatin dengan kondisi saat ini di Fakfak, di mana generasi muda sudah mulai melupakan pangan lokal.
"Kalau kita lihat di pasar, yang jualan pangan lokal saja sudah jarang sekali, dan kalau ada yang jual keladi dan petatas itu mahal sekali misalnya 1 tumpuk petatas Rp 50.000 dan 6 sampai 5 keladi itu biasa Rp 100.000 baru ukurannya kecil-kecil," tandasnya.
Ia mempunyai harapan besar, agar pemerintah bisa menggaungkan kembali konsumsi pangan lokal dengan memperhatikan dari hulu ke hilir.
"Sekarang hanya kitorang-kitorang saja yang sudah tua yang berkebun, tetapi anak muda sudah tidak ada, jadi ini akan putus di generasi kita," khawatirnya.
Sehingga, dari lahan yang harus tersedia, kondisi tanah, hingga kampanye konsumsi pangan lokal kembali digalakkan.
Sementara itu, salah satu Tokoh Perempuan Fakfak, Eni Kapaur mengatakan saat ini pemerintah memang sudah mulai menggaungkan kembali konsumsi pangan lokal.
"Kalau kita lihat di acara-acara pemerintah sudah mulai disajikan juga pangan lokal Fakfak, tetapi itu saja tidak cukup, harus ada usaha dan perhatian lebih serius," tandasnya.
Eni Kapaur mengatakan, kebijakan Pemerintah Provinsi Papua Barat yakni Two Days No Rice atau 2 hari tanpa makan nasi tentu positif dalam mengembalikan kejayaan pangan lokal.
"Kebijakan ini baik karena kita bisa selingan dengan konsumsi pangan lokal supaya tidak lupa, karena kita harus juga berpikir apa jadinya kalau terjadi kelangkaan beras suatu waktu, sebab beras dari padi ini tidak tumbuh di Fakfak, tetapi di bawa dari luar," katanya.
Terlepas dari persoalan itu, Eni Kapaur menekankan sebagai Orang Asli Papua (OAP) harus bangga dan mencintai pangan lokalnya sendiri.
"Karena makanan pokok kita kita seperti keladi, ubi atau petatas ini adalah pangan lokal kota yang merupakan jati diri kita sehingga harus terus dilestarikan di tengah gempuran nasi sebagai pangan nasional," katanya.
Untuk itu, ia berpesan kepada sesama OAP untuk memiliki kesadaran berkebun di mana minimal untuk menciptakan ketahanan pangan keluarga sendiri di rumah.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.