Transformasi STIH Manokwari Menuju Institut Hukum Dipertajam Lewat FGD
Dikatakan Filep Wamafma bahwa selain bidang hukum, STIH Manokwari juga akan menambah program studi manajemen teknologi
Penulis: Matius Pilamo Siep | Editor: Hans Arnold Kapisa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/FGD-STIH-Manokwari.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari terus bergerak maju dan siap bertrasformasi menjadi Institut Hukum dan Pembangunan Papua (IHPP).
Salah satu proses dalam tranformasi dari Sekolah Tinggi ke Institut Hukum, dipertajam melalui Fokus Grup Diskusi (FGD) yang digelar selama dua hari (21-22 Maret) di Kampus STIH Manokwari.
FGD bertajuk "Menata Masa Depan Menuju Perubahan Perguruan Tinggi" itu digelar untuk mendalami kajian akademik dalam proses transformasi tersebut.
Baca juga: Solidaritas Mahasiswa Manokwari Serahkan Aspirasi ke DPR Papua Barat: Harus Sampai ke Presiden
Pantauan Tribun, peserta FGD berasal dari kalangan pelajar tingkat SMA, guru, mahasiswa, dan tenaga dosen dari berbagai kampus di Manokwari.
Kesempatan tersebut Ketua STIH Manokwari, Filep Wamafma, menyatakan bahwa evaluasi terhadap lulusan STIH menjadi bagian penting dalam pengembangan perguruan tinggi.
Menurutnya, salah satu langkah utama yang sedang disiapkan adalah penambahan program studi.
Ia menambahkan, jika STIH berhasil bertransformasi menjadi institut, maka mereka akan memastikan bahwa setiap lulusan akan lebih siap untuk terjun ke dunia kerja.
Baca juga: Filep Wamafma: Anak Muda Papua Harus Terus Berjuang Tempuh Pendidikan
"Ketika STIH bertranformasi menjadi institut, maka kami akan menambah program studi dengan target Utama, bahwa setiap lulusan harus punya bekal untuk siap kerja," kata Filep Wamafma.
Dikatakan Filep Wamafma bahwa selain bidang hukum, ke depan STIH Manokwari juga akan menambah program studi manajemen teknologi.
Tujuannya, kata Filep Wamafma, agar para lulusan dapat berkolaborasi dengan industri serta bidang seni.
Lebih lanjut, Filep Wamafma menekankan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak lagi diukur dari jumlah sarjana yang dihasilkan, tetapi lebih pada seberapa banyak lulusan yang berhasil terserap di dunia kerja.
Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan industri berbasis kearifan lokal Papua, dengan menciptakan produk lokal yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, salah satu Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Prof.Paulus Wisnu Anggoro menyampaikan bahwa transformasi STIH Manokwari menjadi institut bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Papua, agar lebih siap bersaing di dunia kerja.
Baca juga: Mulai 2023, STIH Manokwari Kirim Mahasiswa untuk Studi Banding ke Luar Negeri
"Konsep ini berawal dari ilmu hukum. Untuk mendirikan institut, syaratnya harus memiliki minimal dua atau tiga program studi. Kami menawarkan Ilmu Manajemen Teknologi, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Komunikasi," jelas Prof. Wisnu.
Ia menambahkan bahwa pendidikan vokasi akan menjadi pendekatan utama, yang akan dikolaborasikan dengan pemerintah daerah agar biaya pendidikan dapat lebih terjangkau bagi mahasiswa Papua.
| PKJ Gelar Syukuran Wisuda Adolvina Matuan, Lulusan Sarjana Hukum STIH Manokwari |
|
|---|
| Ketua GMKI Manokwari Respons Soal 'Pesan Minta Uang' : Bukan dari Organisasi |
|
|---|
| Kisah Adolvina Matuan dari Lembah Baliem hingga Meraih Sarjana Hukum di STIH Manokwari |
|
|---|
| Transformasi Kampus dan Pesan Sejarah: Filep Wamafma Teguhkan Komitmen STIH Manokwari |
|
|---|
| Komitmen Inklusif Jadi Fondasi Kepercayaan Publik terhadap STIH Manokwari |
|
|---|