Minggu, 17 Mei 2026

Berita Fakfak

Bangun Fondasi Program Strategis Pala Unggul, Pemkab Fakfak Genjot 8 Blok BPT-PIT

Widhi Asmoro Jati, menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan pala dari hulu hingga hilir sangat ditentukan oleh kualitas benih

Tayang:
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Hans Arnold Kapisa
zoom-inlihat foto Bangun Fondasi Program Strategis Pala Unggul, Pemkab Fakfak Genjot 8 Blok BPT-PIT
Doc: Dinas Perkebunan Fakfak
FAKFAK - Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati menyebutkan langkah perdana dalam suksesi Program Strategis Pala Unggul Fakfak, harus dimulai dari pembenahan kebun Blok Penghasil Tinggi (BPT) dan Pohon Induk Terpilih (PIT), Minggu (25/1/2026) 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Fakfak terus mengoptimalkan delapan Blok Penghasil Tinggi (BPT) dan 136 Pohon Induk Terpilih (PIT) sebagai sumber benih unggul Pala Tomandin Fakfak.

Langkah ini menjadi fondasi utama Program Strategis Pala Unggul yang sejalan dengan visi Fakfak Membara.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan pala dari hulu hingga hilir sangat ditentukan oleh kualitas benih.

“Tanpa fondasi hulu yang kuat dan terstandar, upaya peningkatan produksi, peremajaan kebun, hingga penguatan hilirisasi dan indikasi geografis tidak akan berjalan optimal,” ujarnya kepada media di Fakfak, Minggu (25/1/2026).

Menurut Widhi, pembenahan kebun BPT–PIT dilakukan melalui penataan kebun, penomoran dan verifikasi pohon induk, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama dan penyakit.

Tujuannya agar benih yang dihasilkan konsisten, sehat, dan sesuai dokumen Indikasi Geografis (IG) Pala Tomandin Fakfak.

“BPT berfungsi sebagai sumber tanaman induk terpilih dengan kesesuaian genetik, aroma, rasa, dan kandungan minyak atsiri yang mencerminkan kekhasan Pala Tomandin Fakfak,” jelasnya.

Baca juga: Genjot PAD Fakfak, Donatus Nimbitkendik Supervisi Hilirisasi Pala Tomandin

Ia menambahkan, keberadaan BPT juga menjadi instrumen pengendalian mutu hulu untuk mencegah degradasi kualitas dan pencampuran benih dari luar wilayah IG.

“Dari sinilah kita memperoleh bibit unggul dan asli tanpa tercampur dengan bibit lain,” katanya.

Widhi mengingatkan agar petani tidak sembarangan menanam pala dengan benih yang tidak jelas asal-usulnya.

“Sering terdengar istilah lokal seperti pala selingkuh atau pala pornakan. Itu menunjukkan benih yang tidak berasal dari pohon induk terpilih,” ujarnya.

Dengan dukungan Kementerian Pertanian, Pemkab Fakfak kini melakukan penataan ulang kebun induk, pemupukan organik intensif, serta pengawasan produksi benih.

Langkah ini diharapkan menjaga produktivitas pohon induk yang rata-rata berusia 83–109 tahun, ditanam sejak 1916 hingga 1943.

Delapan kebun BPT yang tersebar di Kampung Wurkendik, Werba, Wrikapal, Mandopma, Firma, dan Wambar memiliki luas total 16,2 hektare dengan populasi 2.150 pohon.

Dari jumlah itu, 136 pohon ditetapkan sebagai PIT dengan potensi menghasilkan rata-rata 2.000 benih per tahun.

“Pembenahan kebun BPT–PIT bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi langkah strategis awal yang menentukan arah, keberlanjutan, dan keberhasilan Program Pala Unggul Fakfak,” tegas Widhi.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved