Jumat, 17 April 2026

Refleksi Jumat Agung: Amnesty Unipa Singgung Penderitaan dan Isu HAM Papua

Hari ini kita melihat bagaimana kekuasaan bisa berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Papua

Tayang:
zoom-inlihat foto Refleksi Jumat Agung: Amnesty Unipa Singgung Penderitaan dan Isu HAM Papua
TribunPapuaBarat.com//Matius Pilamo Siep
Kordinator Amnesty Internasional Indonesia Chapter Universitas Papua (UNIPA), Paskalis Haluk 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Momentum Jumat Agung dimaknai sebagai refleksi mendalam atas penderitaan yang dialami masyarakat Papua, khususnya dalam konteks kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM).

Hal ini disampaikan Koordinator Amnesty International Indonesia Chapter Universitas Papua (Unipa), Paskalis Haluk, saat ditemui di Amban, Manokwari, Jumat (3/4/2026).

Menurut Paskalis, Jumat Agung yang jatuh pada 3 April 2026 menjadi momen penting untuk merenungkan realitas yang terjadi di Papua saat ini.

“Saya merenungkan dengan sangat dalam karakter yang dimainkan oleh Pilatus dan Herodes sebagai seorang penguasa,” ujarnya.

Ia menilai, dalam refleksi iman, sosok Pilatus dan Herodes merupakan simbol kekuasaan yang membiarkan ketidakadilan terjadi.

Menurutnya, gambaran tersebut memiliki relevansi dengan kondisi yang dirasakan sebagian masyarakat Papua saat ini.

“Hari ini kita melihat bagaimana kekuasaan bisa berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Papua ,” katanya.

Baca juga: BEM dan Amnesty Universitas Papua Bantu Pengungsi di Distrik Oksop Pegunungan Bintang

Paskalis menjelaskan, dalam kisah penyaliban Yesus, Pilatus dan Herodes menjadi representasi penguasa yang mengambil keputusan, namun tidak bertanggung jawab atas penderitaan yang ditimbulkan.

Ia juga menyinggung sejumlah dugaan kasus kekerasan terhadap warga sipil di Papua.

Di antaranya peristiwa pada 18 Maret 2026 di Tambrauw, di mana sejumlah warga dilaporkan ditangkap tanpa surat perintah dan mengalami tindakan kekerasan.

Selain itu, kejadian pada 31 Maret hingga 1 April 2026 di Dogiyai juga disebut melibatkan korban dari kalangan masyarakat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

“Peristiwa ini menjadi pengingat akan penderitaan yang masih terjadi,” ungkapnya.

Paskalis turut menggambarkan kondisi masyarakat di sejumlah wilayah Papua yang masih diliputi rasa takut.

Beberapa daerah yang disebut antara lain Moskona (Teluk Bintuni), Dogiyai, Tambrauw, Maybrat, Intan Jaya, Yahukimo, Yalimo, Puncak Jaya, Nduga hingga Pegunungan Bintang.

Menurutnya, sebagian warga terpaksa mengungsi ke hutan untuk menghindari konflik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved