Kamis, 11 Juni 2026

Mahasiswa Yahukimo Klarifikasi Pamflet Kontroversial, Minta Maaf ke Bupati

Mahasiswa Yahukimo di Manokwari klarifikasi dan minta maaf atas pamflet kontroversial “Salibkan Didimus Yahuli”

Tayang:
zoom-inlihat foto Mahasiswa Yahukimo Klarifikasi Pamflet Kontroversial, Minta Maaf ke Bupati
Tribunpapuabarat.com/Matius Pilamo Siep
KLARIFIKASI - Mahasiswa Yahukimo menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, terkait narasi kontroversial yang sempat muncul dalam sebuah pamflet aksi. Hal ini diungkap mereka pada jumpa pers yang digelar di Asrama Mahasiswa Yahukimo, Manokwari, Sabtu (5/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Mahasiswa akui pamflet lahir dari luapan emosi, bukan serangan pribadi terhadap Bupati Yahukimo.
  • Permohonan maaf resmi disampaikan, sekaligus penegasan komitmen menjaga komunikasi baik dengan pemerintah daerah.
  • DPO IMY minta Pemkab tetap mendukung pendidikan mahasiswa Yahukimo sebagai aset pembangunan daerah.

 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Mahasiswa Yahukimo yang menempuh pendidikan di Kota Studi Manokwari, Papua Barat, menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, terkait narasi kontroversial yang sempat muncul dalam sebuah pamflet aksi.

Mahasiswa mengakui bahwa penyebaran pamflet yang memuat kalimat "Salibkan Didimus Yahuli" merupakan tindakan spontan yang lahir dari luapan emosi, saat menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di Kabupaten Yahukimo.

Mantan Pengurus Ikatan Mahasiswa Yahukimo (IMY) Manokwari, Ony Kabak, menjelaskan bahwa pernyataan tersebut bukan ditujukan untuk menyerang pribadi Bupati Yahukimo, melainkan sebagai bentuk kritik terhadap jalannya pemerintahan dan perkembangan daerah selama masa kepemimpinan saat ini.

Baca juga: DPRK Manokwari Imbau Masyarakat Jaga Keamanan Pesparawi Nasional XIV

Menurut Ony, isu yang diangkat mahasiswa ketika itu berkaitan dengan kondisi pengungsian masyarakat yang berada di wilayah Jalan Gunung pada November lalu.

"Yang kami soroti sebenarnya adalah persoalan yang terjadi di daerah. Namun dalam aksi tersebut sempat muncul penyebutan nama bupati dengan narasi 'Salibkan Didimus Yahuli'," ujarnya Ony di Asrama Mahasiswa Yahukimo, Sabtu (5/6/2026).

Ia menjelaskan, mahasiswa sebelumnya telah berupaya membangun komunikasi langsung dengan Pemerintah Kabupaten Yahukimo dengan mendatangi daerah tersebut untuk bertemu bupati. 

Namun, mereka tidak memperoleh kesempatan untuk bertemu secara langsung dan hanya diterima oleh pihak Dinas Pendidikan dan Sekda.

Akibat dinamika yang berkembang pasca-aksi tersebut, Ony mengatakan mahasiswa mendapat informasi bahwa bantuan pemerintah daerah kepada mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari akan dihentikan.

Baca juga: Minyakita 2 Liter Langka di Fakfak, Harga Naik Rp23 Ribu per Liter

Padahal, kata dia, banyak mahasiswa yang saat ini sedang menghadapi kebutuhan mendesak, termasuk biaya tempat tinggal.

"Masa jatuh tempo pembayaran kontrakan akan berakhir pada akhir Juni. Tempat tinggal kami akan berhenti dalam bulan ini," katanya.

Sementara itu, Dewan Penasehat Organisasi (DPO) Ikatan Mahasiswa Yahukimo Manokwari, Agung Yual, meminta Pemerintah Kabupaten Yahukimo untuk tetap memperhatikan keberlangsungan pendidikan mahasiswa yang sedang menempuh studi di Manokwari.

Menurut Agung, jumlah mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari terus bertambah setiap tahunnya.

"Ada mahasiswa lama dan ada juga mahasiswa yang baru datang untuk menempuh pendidikan di Kota Studi Manokwari," ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat melihat mahasiswa sebagai aset pembangunan daerah yang nantinya akan berkontribusi bagi kemajuan Yahukimo.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved