Breaking News:

Vaksinasi Covid19

Perlu Dosis Booser, Perlindungan Vaksin Moderna Disebut Berkurang Seiring Waktu

Moderna melaporkan data baru dari uji coba besar vaksin Covid-19 (MRNA.O) menunjukkan bahwa perlindungan vaksin tersebut berkurang seiring waktu.

Joseph Prezioso / AFP
Botol vaksin Moderna diletakkan di atas meja di klinik vaksinasi Covid-19 Hartford Healthcare di pusat komunitas McGivney Gereja Katolik Saint Charles Borromeo, di Bridgeport, Connecticut pada 20 April, 2021. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM - Data uji coba besar vaksin Covid-19 (MRNA.O) menunjukkan bahwa perlindungan yang ditawarkan vaksin tersebut berkurang seiring waktu.

Perusahaan vaksin Moderna, dalam rilisnya menyatakan mendukung pemberian dosis booster.

"Ini hanya satu perkiraan, tetapi kami percaya ini berarti ketika Anda melihat ke arah musim gugur dan musim dingin, setidaknya kami memperkirakan dampak berkurangnya kekebalan akan menjadi 600.000 kasus tambahan Covid-19," kata Presiden Moderna Stephen Hoge dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Reuters, Jumat (17/9/2021).

Dalam pernyataannya, Hoge tidak memproyeksikan berapa banyak kasus yang akan parah, tetapi ia mengatakan bahwa beberapa orang mungkin akan memerlukan rawat inap.

Kendati demikian, data tersebut sangat kontras dengan data dari beberapa penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa perlindungan vaksin Covid-19 Moderna dapat bertahan lebih lama dibandingkan vaksin mRNA serupa yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech.

Bahkan, para ahli mengatakan bahwa perbedaan itu kemungkinan karena dosis vaksin messenger RNA (mRNA) pada vaksin Moderna yang lebih tinggi dan interval atau jeda suntikan vaksin yang sedikit lebih lama, antara suntikan pertama dan kedua.

Baca juga: Perbedaaan Vaksin Pfizer dan Vaksin Moderna: Mulai dari Efikasi, Kandungan, hingga Penyimpanan

Seperti banyak dilaporkan dalam beberapa studi, kedua vaksin Covid-19 mRNA, Moderna dan Pfizer, ini terbukti sangat efektif dalam memberikan perlindungan pencegahan penyakit dalam studi fase III yang dilakukan dalam skala yang besar.

Namun demikian, analisis yang dipublikasikan Rabu lalu, bagaimanapun juga telah menunjukkan tingkat infeksi yang lebih tinggi di antara orang yang divaksinasi sekitar 13 bulan yang lalu, dibandingkan mereka yang baru divaksinasi sekitar delapan bulan lalu.

Periode penelitian adalah dari Juli hingga Agustus, ketika varian Delta menjadi strain virus corona yang dominan. Namun, studi ini belum menjalani tinjauan atau peer review dari sejawat.

Pada 1 September lalu, Moderna mengajukan permohonan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk meminta otorisasi penggunaan vaksin booster atau dosis ketiga dari vaksin Covid-19 mRNA yang mereka kembangkan.

Baca juga: 4 Fakta terkait Vaksin Covid-19 Buatan Moderna: Cara Kerja hingga Efikasi dan Keamanan

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved