Penjelasan Tentang Diabetes Melitus, Ini Pentingnya Lakukan Terapi Insulin bagi Penderitanya
Diabetes Melitus (DM)cukup banyak diderita orang Indonesia, bahkan angka prevalensinya cenderung mengalami peningkatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Ilustrasi-Diabetes-f.jpg)
Ia kembali menyampaikan bahwa kadar gula darahnya yang sempat turun itu kemudian kembali tinggi hingga mencapai 380 mg/dL.
Dia kembali menggunakan insulin dan mencoba menyeimbangkannya dengan konsumsi obat oral.
Karena ia menyadari bahwa mengkonsumsi obat oral terlalu banyak dan sering, dalam waktu yang cukup lama berisiko memunculkan penyakit baru pada organ tubuh lainnya.
"Nah kemarin itu tinggi lagi 380 (mg/dL), saya suntik lagi. Sekarang sambil minum obat aja, obat gulanya ada 4 untuk pagi siang sore malam, takutnya kalau banyak minum obat itu malah ke ginjal saya efeknya," tutur Sri.
Perempuan yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar (SD) ini pun mengaku telah memiliki banyak stok insulin untuk mengatasi kadar gula darahnya jika kembali naik secara tiba-tiba.
"Ini insulin saya sudah stok banyak, kalau gula darah tinggi lagi ya saya suntik di paha," kata Sri.
Saat ini, kata dia, obat oral yang dikonsumsi tidak hanya untuk pengobatan kadar gula darahnya saja, namun ada beberapa jenis obat lainnya yang harus ia minum.
"Jadi sekarang saya minum obat kolesterol, pengencer darah, obat gula 4 macam, vitamin B12, sama obat darah tinggi. Tapi kalau gulanya tinggi ya saya tambah suntik insulin," jelas Sri.
Memiliki penyakit DMT2 ini tentunya harus membuatnya bijak dalam menerapkan pola hidup sehat, seperti mengkonsumsi makanan yang sehat dengan porsi yang dikurangi, berolahraga dan mengelola stress.
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Penderita Diabetes Alami Penglihatan Kabur
Namun terkadang hal ini sulit ia lakukan karena rutinitasnya sebagai seorang guru mewajibkannya untuk terus berpikir.
Sehingga hal itu dapat memicu kembali munculnya stress dan meningkatkan kadar gula darahnya.
"Nah kadang kalau saya lagi bikin soal, ini kan (sekolah) mau bagi rapor. Makanya sekarang lagi hitung nilai, itu saya pasti sakit terus gulanya tinggi, karena stres banyak mikir, kelelahan," papar Sri.
Menurutnya, saat fokus memikirkan rutinitasnya sebagai seorang tenaga pengajar, gula darahnya kerap naik bahkan sempat mencapai 500 mg/dL.
"Kalau lagi nggak mikir kerjaan, nggak tinggi gula darah saya, biasa aja paling 200, 190 mg/dL. Tapi saat saya mikir, gula darahnya langsung naik 500, 400, 300," tegas Sri.
Terlepas dari penyakit yang dideritanya, Sri mengakui bahwa apa yang dialami ini disebabkan karena ia kurang mampu dalam mengelola stress.