Perjalanan Hidup Sakarias Dowansiba, 7 Hari 7 Malam Jalan Kaki dari Pegaf Menuju Manokwari
Perjalanan Hidup Sakarias Dowansiba, 7 Hari 7 Malam Jalan Kaki dari Pegaf Menuju Manokwari
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Sakarias-Dowansiba.jpg)
Orangtua Sakarias pengin anak-anak bisa memperoleh pendidikan yang baik.
"Karna tidak ada mobil, kami jalan kaki satu minggu baru tiba di Lebau," ucap Sakarias saat cerita sekelumit kisah hidupnya.
Baca juga: Kota Sorong Jadi Langganan Banjir, Kadis PPLH Beberkan Faktor Penyebabnya
Baca juga: Pemprov Papua Barat Sudah Usulkan 9 Nama Calon Pejabat Bupati/Wali Kota ke Kemendagri
Setamat sekolah dasar (SD), Sakarias tinggal di rumah kakak tertuanya di Amban, Manokwari. Ketika SMP dan SMA, ia menumpang di rumah kakaknya.
Pada saat itu, keadaan rumah tidak nyaman untuk belajar dan tidur. Tetapi, ia tetap pengin bisa bersekolah sebagaimana keinginan orangtuanya.
Tidak hanya itu, setiap akhir pekan ia pulang ke rumah orangtuanya di Kampung Lebau, Distrik Manokwari Utara. Dan, kembali ke kota pada senin pagi.
"Sebelum matahari keluar, sa (saya) sudah jalan kaki," katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cendrawasih.
"Saya mengikuti kuliah jarak jauh karena saat itu situasi politik dan keamanan tidak stabil. Kuliah jarak jauh ini saya manfaatkan menjadi ajudan anggita DPRD Manokwari," ujarnya.
Gaji yang diterimanya menjadi ajudan anggota DPRD Manokwari berkisar Rp 700 ribu. Gaji itu untuk biaya kuliah.
Namun, ia terpaksa kehilangan pekerjaan saat anggota dewan itu tidak lagi menjabat. Jadi, ia mencoba melamar sebagai CPNS pada 2006.
"Dan, lulus sebagai PNS. Selanjutnya saya diangkat sebagai Sekretaris Distrik Manokwari Utara dan pada 2020 saya dilantik sebagai kepala distrik (camat)" ungkapnya.
(*)