Berita Manokwari
Berikut, Enam Tips yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengolah Buah Merah Papua
Berikut, Enam Tips yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengolah Buah Merah Papua menjadi obat herbal dan produk lainnya bernilai ekonomis.
Penulis: Kresensia Kurniawati Mala Pasa | Editor: Libertus Manik Allo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Buah-Merah.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Dosen Biologi Tumbuhan Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Maria Justina Sadsoeitoeboen memberikan enam tips yang perlu diperhatikan jika ingin mengolah buah merah menjadi obat herbal dan produk lainnya bernilai ekonomis.
1. Pemilihan jenis buah merah.
Dalam hal pemilihan buah, yakni yang sudah tua atau matang. Jika ingin mendapat ekstrak minyak buah merah lebih banyak, maka dianjurkan memilih buah merah jenis Pandanus Conoideus. Buah merah jenis ini dapat ditemukan di daerah dataran rendah hingga ketinggian 2800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Buah merah jenis ini memiliki ciri bonggolnya berbentuk segitiga dan banyak ditemukan di Kampung Wokman Distrik Warmare.
Sedangkan untuk buah merah yang ada di daerah dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl, dikenal dalam dunia taksonomi tumbuhan dengan nama latin Pandanus macgregorii. Bentuk buahnya yang memanjang dengan bonggol bulat, menjadi ciri khas Pandanus macgregorii.
Baca juga: Tak Hanya Obat Herbal, Olahan Buah Merah Papua juga Dapat Dijadikan Produk Pangan
Baca juga: Kisah Pasangan Dosen Universitas Papua, Pelopor Olah Buah Merah Jadi Obat Herbal di Manokwari
Jika dibandingkan, buah merah Pandanus conoideus lebih banyak menghasilkan minyak ketimbang Pandanus macgregorii.
"Satu buah merah dari Kampung Mokwam (Pandanus conoideus) itu bisa dapat 100 mililiter minyak. Untuk menghasilkan jumlah minyak yang sama, kita butuh 10 buah merah dari dataran rendah, Pandanus macgregorii," katanya.
"Tapi, Pandanus macgregorii mengandung lebih banyak pasta di akhir proses pengolahan," sambungnya.
2. Pencucian Buah Merah
Setelah mendapat buah merah matang, hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara menghilangkan rasa gatal pada buah. Sebab, buah merah mengandung kalsium oksalat. Zat itulah yang menyebabkan rasa gatal saat mengonsumsinya. Seperti halnya saat memakan umbi talas.
"Buah merah habis dipetik harus dicuci bersih dan disikat. Kalau kebiasaan saya, diamkan dulu buahnya selama dua hari. Baru dirontokkan," ujarnya.
3. Proses Memasak
Saat memasak biji buah merah yang telah dirontokkan, dianjurkan penambahan air. Pasalnya, setelah melalui beberapa kali uji coba, ia menyimpulkan titik asap minyak buah merah hanya sebatas tujuh puluh derajat. Titik asap mengacu pada suhu ketika minyak mulai terbakar dan berasap.
4. Kemurnian Minyak
Minyak buah merah dapat dikatakan murni jika bebas dari kandungan pasta. Sehingga, saat proses pengolahan buah merah harus memperhatikan teknik pemisahan minyak, pasta, air dan kotoran. Cara tradisional dengan teknik pengendapan. Untuk hasil yang lebih baik, menggunakan centrifuge, alat vakum dan filter.
"Kalau minyak buah merah yang masih ada pastanya jadi cepat membusuk, kalau murni bisa tahan sampai enam bulan," ujarnya.