Berita Papua Barat

Agus Sumule: Daerah Desentralisasi Bisa Saling Dukung Program Pertanian sampai Pendidikan

Kerjasama antar daerah desentralisasi lainnya yakni pemahaman mengenai pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pendidikan tinggi.

Penulis: R Julaini | Editor: Libertus Manik Allo
TRIBUNPAPUABARAT.COM/KRESENSIA KURNIAWATI MALA PASA
osen Pertanian Universitas Papua (UNIPA), Agus Sumule berpendapat daerah desentralisasi di Indonesia harus menjalin kerja sama dengan efektif. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Dosen Pertanian Universitas Papua (UNIPA), Agus Sumule berpendapat daerah desentralisasi di Indonesia harus menjalin kerja sama dengan efektif.

Ia mencontohkan daerah-daerah di Papua selalu terdepan dalam berbagai hal. Salah satunya kursi dewan perwakilan rakyat yang kuotanya mencapai satu per tiga bagi kaum perempuan.

"Di tempat lain tidak ada," ujar Agus Sumule di ruang kerjanya di Fakultas Pertanian UNIPA, Rabu (27/9/2023).

Baca juga: Akademisi Unipa Agus Sumule Ungkap Solusi agar Investasi Tetap Melejit di Papua Barat

Baca juga: Agus Sumule Sarankan Asosiasi Gubernur se-Tanah Papua Bentuk Sekretariat, Ini Alasannya

Kata Agus pula, daerah desentralisasi lain seperti Aceh bisa belajar mengenai hal itu.

"Kalau disana kurang (kuota perempuannya), dia mungkin bisa belajar dari kita," jelas Agus.

Kerjasama antar daerah desentralisasi lainnya yakni pemahaman mengenai pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pendidikan tinggi.

Yogyakarta misalnya disebut Agus Sumule memiliki dua hal itu.

"Di Yogyakarta kampus banyak. Tidak tahu berapa jumlahnya tapi satu yang saya tahu ada namanya Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPA) yang sekarang jadi universitas. Itu mereka mengelola sawit terbaik," ungkapnya.

Untuk Sawit, Aceh dan Papua dinilai memiliki komoditas tersebut.

Menurut Agus, daripada kehadiran sawit selalu ditolak, hal yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan pengelolaannya.

"Supaya betul-betul bisa memberikan hasil," tegasnya.

Dari Aceh, Agus menilai Papua dapat belajar mengenai keamanan khususnya bagi pengembangan pendidikan.

Ia mengungkapkan sempat bertemu seorang calon dokter yang bersekolah di Aceh dan berasal dari Papua Barat.

Saat menemukan anak tersebut, si anak hanya menjawab keberhasilannya menempuh pendidikan dokter di Aceh lantaran keamanan yang terjamin.

"Kita hari Minggu ke gereja, pulangnya minum air kelapa di pantai, pulang belajar. Tidak bisa ada orang lain datang kesini, apalagi beda jenis kelamin. Nanti polisi syariat dong tangkap," kata Agus menirukan ucapan calon dokter yang ditemuinya.

Agus sangat yakin jika FORDASI bisa menjadi ajang pembangunan di berbagai sektor bagi daerah-daerah khusus dan istimewa.

Di luar itu, ia memperkirakan, jika Ibu Kota Nusantara (IKN) terbentuk, maka keanggotaan FORDASI menjadi 10 daerah.

(*)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved