Berita Fakfak
Kasus HIV di Fakfak Papua Barat Capai 667, Paling Banyak Terdeteksi IRT
Untuk menuju eliminasi HIV, Dinkes Kabupaten Fakfak Papua Barat berharap penuh masyarakat bisa menganggap HIV seperti penyakit lainnya
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Libertus Manik Allo
TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat mengemukakan kasus kumulatif Human Immunodeficiency Virus (HIV) sebanyak 667 kasus positif.
Angka tersebut terhitung sejak dilakukan pencatatan pada tahun 2008 dan direkap dari berbagai Puskesmas yang ada di Kabupaten Fakfak.
"Dari kategori pekerjaan memang agak sulit menganalisa golongan mana yang paling banyak terdeteksi HIV, sebab kadang-kadang ada biasnya misal seorang wanita tuna susila tetapi juga di KTP sebagai ibu rumah tangga," terang Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Fakfak, Nani Sri Untari kepada TribunPapuaBarat.com di Fakfak, Sabtu (5/10/2024).
Baca juga: Dinkes Manokwari Catat 41 Ibu Hamil Positif HIV Sepanjang 2023
Baca juga: Peneliti Ungkap 2 Sub Tipe HIV yang Marajalela di Kabupaten Fakfak Papua Barat
Nani Sri Untari mengatakan, dari yang terdeteksi positif HIV bekerja sebagai ASN sebanyak 5 persen, ibu rumah tangga 9 persen, karyawan swasta 7 persen, Lelaki Seks Lelaki (LSL) 5 persen, Wanita Tuna Susila (WTS) 9 persen, mahasiswa 6 persen, pelajar 1 persen, sisanya nelayan, ojek dan tidak bekerja.
"Dari data ini, penderita HIV positif yang bekerja sebanyak 125 orang dan yang tidak bekerja itu 136 orang, itu hitungan data tentu bukan dari 2008," ujarnya.
Pihaknya menyadari betul bahwasanya kelompok penyebaran HIV tak terkonsentrasi pada WTS saja, tetapi juga sudah merembet ke ibu rumah tangga hingga orang tak bekerja.
"Fenomena ibu rumah tangga banyak yang terdeteksi positif memang kalau dilihat dari grafiknya bukan hanya di Fakfak saja, tetapi dari daerah lainnya juga," ujarnya.
Ia juga mengiyakan bahwasanya fenomena penyebaran HIV di Fakfak sifatnya gunung es saja, artinya yang nampak saat ini hanya di permukaan.
"Kebetulan karena kelompok ibu rumah tangga yang paling sering terakses dengan Puskesmas, maka mereka yang dideteksi lebih cepat dibandingkan kelompok lainnya," ujar Nani Sri Untari.
Dikatakannya pula untuk mencapai eliminasi HIV, seharusnya ada peningkatan kasus yang tinggi kemudian terjadi penurunan.
"Itu bisa kita gambarkan dalam bentuk kurva, tetapi melihat Fakfak, temuan kasus positif HIV masih mengalami fluktuasi, cenderung meningkat tetapi naik turun juga," katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga tak menampik masih banyak stigmatisasi buruk terhadap penderita HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Fakfak Papua Barat.
"Di mana orang masih menganggap HIV kalah sesuatu yang mengerikan atau penyakit kutukan begitu, sehingga untuk sukarela tes dari kelompok beresiko di Fakfak masih sangat rendah," katanya.
Untuk menuju eliminasi HIV, Dinkes Kabupaten Fakfak Papua Barat berharap penuh masyarakat bisa menganggap HIV seperti penyakit lainnya.
"Perlu dipahami masyarakat juga bahwa HIV tidak mudah menular, berbeda dengan TB, jadi tidak boleh mengucilkan atau mendiskriminasi ODHIV," katanya.
Pihaknya juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyebaran HIV dengan tidak melakukan perilaku seksual beresiko di antaranya bergonta-ganti pasangan tanpa alat kontrasepsi (kondom).
"Setia pada pasangan sah anda dan lebih baik justru jika belum menikah maka jangan melakukan hubungan seksual terlebih dahulu," katanya.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.