Kenang Banjir Bandang 14 Tahun Silam, Ketua KPU Teluk Wondama Harapkan Warga Cinta Alam

“Setelah saya pulangkan anak-anak sekolah sekitar satu jam, meletuslah banjir bandang di kota Wasior itu,” ujar Yustinus Rumabur

Penulis: R Julaini | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Istimewa/Yustinus Rumabur
Foto banjir bandang di Wasior, Teluk Bintuni, Papua Barat, pada 2010. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, WASIOR - Senin, 4 Oktober 2010, Yustinus Rumabur yang saat itu merupakan Kepala SMP Negeri Wasior, menjadwalkan upacara kenaikan bendera merah putih seperti biasanya. 

Pada pagi itu, sekitar pukul 07.00 pagi, air sudah menggenangi lapangan hingga sekitar betis anak-anak.

Selain menutup lapangan tempat upacara akan dilangsungkan, air juga menggenangi jalan di depan sekolah serta Kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Dinas P&P) Teluk Wondama yang lama.

Melihat kejadian itu, ia mengambil inisiatif, tanpa aba-aba dari pihak manapun, untuk memulangkan anak-anak sekolah.

“Setelah saya pulangkan anak-anak sekolah sekitar satu jam, meletuslah air yang mengakibatkan banjir bandang yang melanda kota Wasior itu,” ujar Yustinus Rumabur pada hari Peringatan 14 Tahun Banjir Bandang di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Senin (4/10/2024).

Saat itu, ia memastikan banyak muridnya yang sudah melenggang ke rumah,namun sebagian anak ternyata tidak langsung pulang. 

Baca juga: 6 Sekolah Ikut Cerdas Cermat Kepemiluan, KPU Teluk Wondama: Sosialisasi dan Motivasi Pemilih Pemula

 

Ia menyebutkan, ada dua anak yang masih tinggal untuk melihat-lihat peristiwa banjir. Kedua anak yang tidak disebutkan namanya itu kemudian menjadi korban banjir bandang.

“Mereka sempat menonton kayu yang hanyut, dan pohon yang hanyut di bawah jembatan Kali Anggris. Merekalah yang menjadi korban banjir bandang,” ungkapnya.

Dua jenazah muridnya itu sempat dipindahkan ke masjid Wasior. Yustinus Rumabur menyatakan dirinya sempat melihat langsung jenazah dua muridnya di masjid tersebut.

Di luar kejadian itu, ia mengenang sempat mengimbau sejumlah warga yang berada di rumah untuk mengevakuasi diri.

Ia mengingat, evakuasi pada hari itu menggunakan perahu. Perahu itu kemudian menjauh dari bibir pantai.

“Kami di tengah laut hari itu menunggu, siapa tahu ada banjir susulan,” ujarnya.

Baca juga: TNI-Polri Gelar Simulasi Pengamanan Pilkada, Begini Kata Bawaslu dan KPU Teluk Wondama

Ia menyatakan, saat banjir bandang terjadi, banyak lumpur yang ikut dalam aliran banjir. Banyaknya lumpur disebutkan dapat mendorong perahu yang dinaiki orang-orang.

“Ketebalan lumpur mungkin sekitar 50-80 centimeter. Itu yang lumpur saja,” kata Yustinus Rumabur.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved