Wisata Papua Barat Daya
Pesona Raja Ampat: Jadi Rumah Ribuan Spesies Anggrek, Koleksinya Terus Bertambah
Raja Ampat, di Provinsi Papua Barat Daya menjadi hutan konservasi salah satunya dikarenakan keanekaragaman anggreknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Dermaga-di-Pantai-Waiwo-Waigeo-Raja-Ampat-Papua-Barat-dengan-pemandangan-alamnya.jpg)
Pada akhir Maret 2021, salah satu koleksi anggrek (living collection) dengan kode koleksi RR141 berbunga.
Baca juga: Keindahan Pulau Batanta Raja Ampat, Situs Sejarah Bawah Laut hingga Spesies Anggrek Liar Tersedia
Setelah melakukan identifikasi secara seksama, anggrek tersebut adalah Dendrobium sagin Saputra & Schuit.
Salah satu anggrek spesies baru asal Kabupaten Sorong, Papua Barat yang baru dipulikasikan enam bulan yang lalu.
Temuan Dendrobium sagin merupakan salah satu temuan yang menarik, dan tentunya juga temuan yang sangat penting.
Temuan D. sagin ini menjadi catatan baru (new record) untuk persebaran di Pulau Waigeo, yang sebelumnya hanya di temukan di pulau utama Papua.
Anggrek di Pulau Batanta
Pada Bulan Maret 2022, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berkolaborasi dengan sejawat mereka dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat menemukan 90 koleksi anggek di Pulau Batanta.
BRIN-BBKSDA Papua Barat menemukan anggrek Dendrobium cuneatum yang sebelumnya hanya ditemukan di region Sulawesi dan Maluku saja.
Ada juga temuan anggrek akar Taeniophyllum torricellense yang sebelumnya hanya ditemukan di dua lokasi, yaitu Pulau San Cristobal di Kepulauan Solomon dan Pegunungan Torricelli, Papua Nugini.
Baca juga: Menyelam di Raja Ampat, Pahami 6 Aturan yang Harus Dipatuhi
Lainnya, ada juga anggrek epifit Dendrobium incumbens yang sebelumnya hanya tercatat berasal dari dua titik lokasi di Papua Nugini, yaitu Distrik Sepik dan Morobe.
Selain anggrek, ada juga tanaman lain yang dimanfaatkan oleh masyarakat adat untuk pengobatan, kerajianan. pakaian, hingga material membuat perahu.
Seperti tanaman wil-gelfun (Coscinium fenestratum) yang banyak tumbuh liar di hutan sebagai obat tradisional herbal untuk penyakit malaria, sakit mata, gangguan pencernaan, serta badan letih.
Ada juga teliih (Terminalia catappa) yang banyak tumbuh liar di pesisir yang digunakan untuk mengobati luka terbuka, gangguan pencernaan, hingga diare.
(TribunPapuaBarat.com)