Selasa, 19 Mei 2026

Papua Barat Daya

Solidaritas Global Generasi Muda Moi Menjaga Hutan Adat Malamoi

Kalau anak-anak tidak mengenal hutan adat mereka, maka mereka bisa kehilangan rasa memiliki terhadap tanah dan hutannya

Tayang:
zoom-inlihat foto Solidaritas Global Generasi Muda Moi Menjaga Hutan Adat Malamoi
istimewa/Paskalis Haluk
HUTAN ADAT - Anggota Muda Perkumpulan Masyarakat Amnesty Internasional Indonesia bersama Gerakan Malamoi menggelar kegiatan kemah bertajuk “A Night of Light: Kemah Hutan Adat Malamoi” di Kampung Klawiri, Distrik Moi Sigin, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. 

Ringkasan Berita:
  • Kemah “A Night of Light” dirancang untuk mendekatkan anak-anak dan pemuda Moi dengan hutan adat mereka, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki serta tanggung jawab menjaga tanah adat.
  • Masyarakat adat Moi bersama Amnesty International menegaskan pentingnya solidaritas global dan dukungan lintas pihak untuk mempertahankan hutan adat sebagai sumber kehidupan, budaya, dan identitas.

 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG - Menjaga Hutan Adat Malamoi berarti menjaga kehidupan, budaya, identitas, serta masa depan generasi Moi.

Hal itu ditegaskan dalam kegiatan kemah bertajuk “A Night of Light: Kemah Hutan Adat Malamoi” yang digelar Anggota Muda Perkumpulan Masyarakat Amnesty Internasional Indonesia bersama Gerakan Malamoi pada 15–16 Mei 2026 di Kampung Klawiri, Distrik Moi Sigin, Kabupaten Sorong Papua Barat Daya.

Koordinator Acara Amnesty Internasional Indonesia, Firda Amalia, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk mendekatkan generasi muda dengan hutan adat mereka sendiri.

“Kalau anak-anak tidak mengenal hutan adat mereka, maka mereka bisa kehilangan rasa memiliki terhadap tanah dan hutannya. Karena itu, kami ingin mereka belajar langsung di lapangan dan melihat perubahan yang sedang terjadi,” ujarnya dalam rilis, Senin (18/5/2026).

Kemah ini merupakan bagian dari inisiatif global “The Constellation” yang diinisiasi Amnesty International untuk menghubungkan aksi-aksi lokal dari berbagai belahan dunia dalam satu narasi solidaritas global terkait perlindungan hak asasi manusia dan ruang hidup masyarakat adat.

Baca juga: Raja Rumbati Kritik Pemkab Fakfak: Hutan Adat Gundul, Reboisasi Tak Pernah Ada

ia menjelaskan bahwa selama dua hari, peserta yang terdiri dari anak-anak, pemuda, aktivis lokal, dan masyarakat adat setempat mengikuti berbagai kegiatan edukasi, refleksi, dan ekspresi budaya. 

"Pada malam pertama, mereka menyaksikan film “Pesta Babi” dan berdiskusi mengenai dampak PSN," ujarnya.

Hari kedua diisi dengan jelajah hutan bersama tokoh adat dan mama-mama kampung, yang menjelaskan manfaat pohon dan tanaman obat tradisional menggunakan bahasa Moi.

"Peserta juga diperlihatkan langsung kawasan hutan yang telah berubah menjadi perkebunan sawit," jelasnya.

Ketua Dewan Adat Moi Sigin, Hermanus Kutumun, menegaskan bahwa hutan adalah rumah kehidupan masyarakat Papua.

“Hutan adalah tempat kita hidup. Kalau hutan habis, anak-anak kita nanti mau hidup bagaimana,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Distrik Moi Sigin, Safira Klagilit, mengapresiasi kegiatan ini dan menekankan pentingnya pengetahuan menjaga tanah adat sejak dini.

Baca juga: AMAN Sorong Raya dan Malamoi Minta Ada Perda Masyarakat Adat di Seluruh Papua Barat

Hal senada diutarakan Ketua Marga Kampung Klawiri, Zakarias Kotumun.

Ia menegaskan perlunya dukungan semua pihak untuk mempertahankan tanah adat di tengah ekspansi perkebunan sawit.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved