Nestapa di Segitiga Terumbu Karang Dunia Raja Ampat Papua Barat

Gugusan kepulauan di Raja Ampat, Papua Barat, merupakan rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna yang hidup dari gunung hingga ke wilayah perairan.

TribunPapuaBarat.com/Safwan Ashari
Anak-anak di sebuah rumah yang ada di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (13/8/2022). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, RAJA AMPAT - Gugusan kepulauan di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, merupakan rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna yang hidup dari gunung hingga ke wilayah perairan.

Dengan limpahan kekayaan alam Raja Ampat, hingga kini dijuluki sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi.

Hanya saja, belakangan ini surga kecil itu berangsur-angsur dijadikan sebagai lahan tangkap bagi nelayan nakal.

Baca juga: HUT ke-77 RI, Lantamal XIV Sorong Kibarkan Merah Putih di Dasar Laut Pulau Matan Raja Ampat

 

Mereka datang berbagai motif pencaharian mulai dari menangkap ikan dengan cara bius, jaring harimau dan bahkan meletuskan bom.

Nahasnya, aktivitas illegal fishing atau penangkapan ikan secara illegal itu berada tepat di wilayah segitiga karang dunia, rumah ikan pari manta (Ikon Raja Ampat) dan jalur lintasan hiu paus.

Diketahui, lokasi segitiga karang dunia di Pulau Kofiau dan Boo, Raja Ampat seluas 170.000 hektar.

Kegiatan illegal fishing itu diakui Pit Rumbewas (65), Seorang Tokoh Masyarakat di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Kabupaten Raja Ampat.

"Kegiatan illegal fishing ini hingga saat ini masih dilaksanakan oleh sejumlah oknum nelayan," ujar Pit, kepada TribunPapuaBarat.com, Rabu (17/8/2022).

Sejak dahulu kala, aksi illegal fishing oleh nelayan nakal yang terobos ke Pulau Kofiau, Raja Ampat masih tetap berlanjut.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved