Nestapa di Segitiga Terumbu Karang Dunia Raja Ampat Papua Barat

Gugusan kepulauan di Raja Ampat, Papua Barat, merupakan rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna yang hidup dari gunung hingga ke wilayah perairan.

TribunPapuaBarat.com/Safwan Ashari
Anak-anak di sebuah rumah yang ada di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (13/8/2022). 

"Pari manta dan lumba-lumba ini merupakan spesies ikan yang kini menjadi ikon dari Raja Ampat," jelas Pit.

"Saya sebagai orang Biak yang sudah lama menetap di Raja Ampat, merasa sangat dirugikan karena wilayahnya dirusak oleh nelayan nakal."

"Rata-rata pelaku illegal fishing di Pulau Kofiau berasal dari Sorong, Kendari, Maluku dan Maluku Utara," ungkapnya.

Bahkan, nelayan asing dari Filipina pun bisa masuk dan menggunakan jaring harimau.

Ia berharap, persoalan ini harus segera diatasi oleh pihak terkait sehingga bisa diambil tindakan tegas kepada pelaku.

"Kami tidak mau mewariskan air mata kepada anak cucu di Pulau Kofiau Raja Ampat," pungkasnya.

Baca juga: Mengintip Surga di Pedalaman Raja Ampat, Wisata Papua Barat yang Menyimpan Legenda Sakral

 

Kondisi Karang

Tak hanya itu, Koordinator Area Kofiau dan Boo BLUD UPTD Raja Ampat Otis Mambrasar pun angkat bicara.

Otis mengaku, sejak tahun 2000 an terumbu karang masih dalam kondisi sehat tanpa aktivitas illegal fishing.

"Sampai beberapa bulan ini mulai ada sejumlah nelayan yang melaksanakan kegiatan illegal fishing," ungkapnya.

Ia memprediksi, jika aktivitas pengeboman ikan di wilayah segitiga karang dunia otomotif spesies yang hidup di sekitarnya justru rusak.

"Kita selama bulan ini sudah melakukan aktivitas pendataan dan kondisi terakhir yang ada hanya 75 persen," tutur Otis.

Selebihnya, spesies terumbu karang di lokasi itu telah rusak atau tidak sehat.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved