Minggu, 7 Juni 2026

Nestapa di Segitiga Terumbu Karang Dunia Raja Ampat Papua Barat

Gugusan kepulauan di Raja Ampat, Papua Barat, merupakan rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna yang hidup dari gunung hingga ke wilayah perairan.

Tayang:
Penulis: Safwan Ashari | Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
zoom-inlihat foto Nestapa di Segitiga Terumbu Karang Dunia Raja Ampat Papua Barat
TribunPapuaBarat.com/Safwan Ashari
Anak-anak di sebuah rumah yang ada di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (13/8/2022). 

"Rata-rata pelaku illegal fishing di Pulau Kofiau berasal dari Sorong, Kendari, Maluku dan Maluku Utara," ungkapnya.

Bahkan, nelayan asing dari Filipina pun bisa masuk dan menggunakan jaring harimau.

Ia berharap, persoalan ini harus segera diatasi oleh pihak terkait sehingga bisa diambil tindakan tegas kepada pelaku.

"Kami tidak mau mewariskan air mata kepada anak cucu di Pulau Kofiau Raja Ampat," pungkasnya.

Baca juga: Mengintip Surga di Pedalaman Raja Ampat, Wisata Papua Barat yang Menyimpan Legenda Sakral

 

Kondisi Karang

Tak hanya itu, Koordinator Area Kofiau dan Boo BLUD UPTD Raja Ampat Otis Mambrasar pun angkat bicara.

Otis mengaku, sejak tahun 2000 an terumbu karang masih dalam kondisi sehat tanpa aktivitas illegal fishing.

"Sampai beberapa bulan ini mulai ada sejumlah nelayan yang melaksanakan kegiatan illegal fishing," ungkapnya.

Ia memprediksi, jika aktivitas pengeboman ikan di wilayah segitiga karang dunia otomotif spesies yang hidup di sekitarnya justru rusak.

"Kita selama bulan ini sudah melakukan aktivitas pendataan dan kondisi terakhir yang ada hanya 75 persen," tutur Otis.

Selebihnya, spesies terumbu karang di lokasi itu telah rusak atau tidak sehat.

"Sebagai petugas jaga laut kami hanya bisa pergi lihat, karena kita tidak punya kewenangan penindakan," bebernya.

"Semua laporan ini sudah kita sampaikan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi di Papua Barat."

Hanya saja, hal itu tidak direspon atau tak mendapat fasilitas lengkap untuk mengambil tindakan tegas.

Ia berharap, lewat 17 Agustus 2022 pemerintah harus bisa memperhatikan persoalan pengeboman.

"Yang kita takutkan kalau bom terus otomatis biota laut seperti karang, lumba-lumba dan ikan pari manta," ungkapnya.

Otis menyadari, lewat aksi illegal fishing ini sejumlah ikan lumba-lumba dan pari manta di wilayah segitiga karang dunia mulai terusik dengan kegiatan ini.(*)

Berita terkait lainnya

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved