Nestapa di Segitiga Terumbu Karang Dunia Raja Ampat Papua Barat
Gugusan kepulauan di Raja Ampat, Papua Barat, merupakan rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna yang hidup dari gunung hingga ke wilayah perairan.
Penulis: Safwan Ashari | Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Kampung-Deer.jpg)
Selama ini, beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pemerintah telah melakukan upaya pendataan wilayah di segitiga karang dunia.
Hanya saja, lokasi yang menjadi mahkota bahari di Raja Ampat telah di rusak oleh nelayan nakal.
"Lokasi segitiga karang dunia itu kini dirusak oleh bom milik para nelayan nakal," katanya.
Aktivitas illegal fishing itu telah berjalan sejak 2018 hingga 2022 ini.
"Kami sebagai masyarakat merasa tidak terima karena kekayaan alam di segitiga karang dunia di wilayah Kofiau malah dirusak," imbuhnya.
Warga sejak dulu melindungi karang, ikan dan ekosistem alam justru dirusak oleh oknum nakal.
"Ketika melihat ini begitu saja karena kalau mengambil langkah tegas otomatis akan dibom," ungkap Pit.
Baca juga: Arborek Surga Kecil di Raja Ampat yang Kaya Akan Bahari dan Budaya nan Eksotik
Efek Samping Bom
Pit mengaku, pengemban yang masih saja terjadi di wilayah segitiga karang dunia membuat beberapa habitat pun rusak dan mati.
"Bom ikan yang begitu masif, membuat karang, teripang, lola dan bahkan ikan pun mati dan rusak," imbuhnya.
Walaupun telah nyata-nyata merusak alam di sekitar segitiga karang dunia, pihaknya tidak bisa mengambil tindakan kepada para pelaku.
Ia mengaku, selain jadi spot segitiga karang dunia, lokasi ini juga menjadi rumah bagi habitat ikan lumba-lumba dan pari manta.
"Pari manta dan lumba-lumba ini merupakan spesies ikan yang kini menjadi ikon dari Raja Ampat," jelas Pit.
"Saya sebagai orang Biak yang sudah lama menetap di Raja Ampat, merasa sangat dirugikan karena wilayahnya dirusak oleh nelayan nakal."